Setelah 15 tahun berkiprah untuk membangun sumber daya manusia yang unggul di Banua, Yayasan Hasnur Centre bersiap menghadapi gelombang baru di era industri 5.0, di mana terdapat tantangan yang tidak bisa diprediksi dan memerlukan berbagai inovasi supaya tantangan itu tidak berubah menjadi ancaman. Menyadari pentingnya kesiapan dalam menghadapi era baru, YHC menggelar seminar dan talkshow bertajuk “Enhancing People, Advancing The Game” di Wetland Square Banjarmasin, Senin (21/04/2025).
YHC menghadirkan dua sosok representatif yang dapat memberikan gambaran terkait peluang dan ancaman bagi industri di masa depan, yakni Head of Human Capital Division Hasnur Group, Sapto Ashardianto dan Direktur Eksekutif Yayasan Hasnur Centre, Dr. Zulfikar Alimuddin. Zulfikar menuturkan perkembangan revolusi industri sejak era 1.0 yang ditandai dengan penemuan mesin pintal, dilanjutkan dengan 2.0 ketika mulai adanya penggunaan listrik dan produksi massal di Amerika, lalu revolusi industri 3.0 ketika memasuki komputerisasi, dan saat ini diyakini sebagai era 4.0 di mana penggunaan big data melahirkan Artificial Intelligence (AI) yang dapat memudahkan pekerjaan manusia.
“Ketika dunia sedang berproses menjadi 5.0, sebagian saudara kita masih bekerja dengan 1.0. Kita cenderung menentang adanya AI karena khawatir pekerjaan kita digantikan oleh AI, padahal sejatinya kehadiran teknologi dan pekerjaan disederhanakan, manusia jadi punya ruang untuk berinovasi, berimajinasi dan belajar lebih dalam. Maka lewat program baru yaitu Ekosistem Inovasi, kita mencoba menjahit program-program Hasnur Group dan Yayasan Hasnur Centre, bekerja sama dengan beberapa stakeholder, agar memungkinkan kita semakin membangun kemajuan,” papar Dr. Zulfikar Alimuddin.
“Dalam konteks enhancing people, ada tiga kelompok besar cara berpikir manusia, namun Indonesia sebagian besar masih di kelompok level paling bawah. Tantangannya bukan memakai AI, tapi tingkat literasi dan numerasi. Level dua adalah kemampuan menganalisa, dan level tiga adalah kemampuan menggunakan alat untuk menganalisa dan menciptakan jalan keluar. Buat kita yang sudah di level tiga harus berpikir menggunakan AI untuk membangun platform yang bisa membantu anak-anak Indonesia mengembangkan literasinya. Bukan mereka yang menggunakan AI, tapi bagaimana kita menggunakan AI untuk mempercepat proses penciptaan alat agar bisa membantu peningkatan literasi dan numerasi,” tambah peraih gelar Doktor program Manajemen Manusia & Keilmuan Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.
Guna menjawab keresahan generasi muda terhadap peluang kerja di era teknologi dan kecerdasan buatan, Sapto Ashardianto menuturkan bahwa Human Capital terus berupaya memberikan program yang relevan, salah satunya melalui pembelajaran berbasis proyek. Sementara itu jika berkaca pada sejumlah negara maju, saat ini dunia industri sedang berminat pada individu yang generalis atau satu orang yang menguasai berbagai bidang, sehingga perlu kesadaran diri bagi setiap orang untuk selalu meng-upgrade kemampuannya.
“Tren utama dan terbesar adalah bagaimana AI menjadi tantangan di sektor industri. Bagaimana kami dari Human Capital merespon hal tersebut, strateginya 60 persen ke employee upskilling and reskilling. Apa saja program-program yang disasar untuk meng-enhance people, kami menggunakan 10 persen leadership program yang saat ini sedang berjalan, lalu (20 persen) ada tematik workshop, dan yang tidak kalah penting adalah 70 persen yang bersifat experimental learning, pembelajaran dari cara bekerja dalam lingkungan atau dalam bentuk proyek,” jelas Sapto Ashardianto.
“Dulu di era 2000an, kompetensi kita cenderung ke T-shape, garis atas adalah suatu kemampuan yang sifatnya umum, dan di bawahnya adalah sertifikasi atau kemampuan yang menunjang. Dengan adanya AI, hal ini semakin tidak relevan. Yang dikejar saat ini adalah M-shape, bukan upskilling tetapi reskilling. Misalnya saya selaku Human Capital, saya harus mencari satu kompetensi di luar Human Capital yang sangat berbeda, bisa ke digital atau saya punya passion ke sustainability. Tren sekarang adalah bagaimana kita sebagai manusia meng-enhance diri sendiri untuk memiliki kompetensi di luar satu yang spesifik,” tegas alumni University of Birmingham tersebut.
